Rabu, 02 November 2016

Apa itu Reengineering, Continous Improvement, Total Quality Management, dan Six Sigma



            Business Process Reengineering (BPR) dan Continous Improvement Process (CIP) adalah metode dalam proses bisnis yang diterapkan oleh perusahaan. Namun kedua metode ini tidak bersinergi satu sama lain.
            Menurut wikipedia, Business Process Reengineering (BPR, Rekayasa ulang proses bisnis) adalah pemikiran kembali secara fundamental dan perancangan kembali proses bisnis secara radikal, dihasilkan dari sumber daya organisasi yang tersedia.
BPR menggunakan pendekatan untuk perancangan kembali cara kerja dalam mendukung misi organisasi dan mengurangi biaya. Perancangan ulang dimulai dengan penaksiran level tinggi terhadap misi organisasi, tujuan strategis, dan kebutuhan pelanggan. Pertanyaan dasar yang ditanyakan seperti "apakah misi kita harus diperjelas? Apakah tujuan strategis kita berjalan beriringan dengan misi kita? Siapa pelanggan kita?"
Sedangkan R.E Indrajit dan R.Djokopranoto (2002) menyatakan, reengineering merupakan perubahan yang cepat dan radikal dalam merancang ulang strategi, nilai tambah proses bisnis dan sistem, aturan dan struktur  organisasi yang mendukung kegiatan bisnis, dan untuk mengoptimalkan  workflow dan produktivitas di dalam suatu organisasi. Sedangkan BPR merupakan pemikiran ulang secara fundamental dan desain ulang secara radikal terhadap proses bisnis untuk mendapatkan peningkatan dramatis dalam hal-hal kritis dan pengukuran kinerja kontemporer perusahaan, seperti biaya, kualitas, pelayanan, dan kecepatan.
Kemudian, apa yang dimaksud dengan Continous Improvement?
Menurut Maureen Weicher and friends (2004) kebanyakan perusahaan, memperbaiki kinerja dalam organisasinya dengan cara terus-menerus, atau yang biasa dikenal sebagai metode continuous improvement. Metode ini merupakan model perbaikan secara biasa.
Metode seperti ini menghasilkan perbaikan pada proses bisnis perusahaan yang sifatnya gradual dan bertahap. Pada masa sekarang ini metode seperti ini agaknya sudah  kurang tepat untuk digunakan lagi, ini terjadi karena ketatnya persaingan dalam dunia  bisnis dan pesatnya perkembangan teknologi yang terjadi.


BPR
CIP
Perubahan radikal
Perubahan berangsur-angsur
Investasi besar
Investasi kecil
Berfokus pada teknologi
Berfokus pada praktek kerja
Pembuatan sistem baru
Perbaikan pada yang telah ada
Champion driven
Dikendalikan oleh unit kerja
Tabel Perbedaan BPR dan CIP

Bahasan selanjutnya ialah Total Quality Management (TQM) dan Six Sigma. Keduanya merupakan strategi manajemen yang juga banyak diterapkan.
Menurut wikipedia, TQM adalah strategi manajemen yang ditujukan untuk menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses dalam organisasi. Sesuai dengan definisi dari ISO, TQM adalah "suatu pendekatan manajemen untuk suatu organisasi yang terpusat pada kualitas, berdasarkan partisipasi semua anggotanya dan bertujuan untuk kesuksesan jangka panjang melalui kepuasan pelanggan serta memberi keuntungan untuk semua anggota dalam organisasi serta masyarakat."
Sedangkan Six Sigma adalah  suatu alat manajemen baru yang digunakan untuk mengganti Total Quality Management ( TQM ), sangat terfokus terhadap pengendalian kualitas dengan mendalami sistem produksi perusahaan secara keseluruhan. Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan mehilangkan biaya. Six sigma juga disebut sistem komprehensive - maksudnya adalah strategi, disiplin ilmu, dan alat - untuk mencapai dan mendukung kesuksesan bisnis.
Thomas Pyzdek, seorang konsultan implementasi Six Sigma dan penyusun buku "The Six Sigma Handbook", pada bulan Februari 2001, menjelaskan adanya perbedaan penting antara Six Sigma dan TQM yaitu, TQM hanya memberikan petunjuk secara umum (sesuai dengan istilah manajemen yg digunakan dalam TQM). Petunjuk untuk TQM begitu umumnya sehingga hanya seorang pemimpin bisnis yg berbakat yg mampu menterjemahkan TQM dalam operasional sehari-hari. Secara singkat, TQM hanya memberikan petunjuk filosofis tentang menjaga dan meningkatkan kualitas, tetapi sukar untuk membuktikan keberhasilan pencapaian peningkatan kualitas.
Kemudian konsep Total Quality Control, di tahun 1950, menunjukkan bahwa kualitas produk bisa ditingkatkan dengan cara memperpanjang jangkauan standar kualitas ke arah hulu, yaitu di area engineering dan purchasing. Akan tetapi ada beberapa kelemahan yang muncul pada pelaksanaan Total Quality Control yaitu:
1. Terlalu fokus pada kualitas dan tidak memperhatikan isu bisnis yg kritikal lainnya,
2. Implementasi Total Quality Control menciptakan pemahaman bahwa masalah kualitas adalah masalahnya departemen Quality Control, padahal masalah kualitas biasanya berasal dari ketidakmampuan departemen lain dalam perusahaan yg sama,
3. Penekanan umumnya pada standar minimum kualitas produk, bukan pada bagaimana meningkatkan kinerja produk.
Six Sigma dalam pelaksanaannya menunjukkan hal-hal menjadi solusi permasalahan di atas:
1. Menggunakan isu biaya, cycle time dan isu bisnis lainnya sebagai bagian yg harus diperbaiki,
2. Six sigma tidak menggunakan ISO 9000 dan Malcolm Baldrige Criteria tetapi fokus pada penggunaan alat untuk mencapai hasil yg terukur,
3. Six sigma memadukan semua tujuan organisasi dalam satu kesatuan. Kualitas hanyalah salah satu tujuan, dan tidak berdiri sendiri atau lepas dari tujuan bisnis lainnya,
4. Six sigma menciptakan change agent yg bukan bekerja di Quality Department.